SERPIHAN KACA

   I.        SERPIHAN PERTAMA

Namaku adalah Hujan. Aku terlahir sebagai seorang gadis yang tak bisa bicara, Bisu.  Tapi, selebihnya aku sangat normal.

Bagi ibuku, melihatku tumbuh besar seperti sedang melihat suatu pagelaran megah sebuah film bisu berwarna. Sangat nyata, hanya tanpa suara.  Ia bilang, aku terlahir dengan sebuah anugerah. Berkah dari Tuhan.  Dengan keadaanku yang seperti ini aku tak pernah menyakiti siapapun dengan ucapan menyakitkan atau guyonan yang menyebalkan.  Padahal sebenarnya jika aku mau, aku bisa menuliskan segala sumpah serapah itu dikertas dan memberikannya pada orang yang tak kusukai.  Tapi bagiku ibu benar.

Saat aku tak bisa mengucapkannya lebih baik aku tak menuliskannya.

Itu yang kupelajari dari ibu tentang bagaimana menghindari hal-hal buruk untuk kulakukan. Namun, bukan berarti karena aku tak bisa mengatakannya aku tak menuliskan semuanya.  Ibuku pernah berkata, apa yang kau rasakan bisa kau tuliskan.  Rasa memang tak hanya bahagia, tapi rasakanlah olehmu saat kau hendak menuliskan hal yang buruk bagi orang lain.  Apa kau merasa jika itu kau tuliskan untuk orang lain, ketika keadaannya menjadi orang lain lah yang menuliskan itu untukmu apa yang kau rasakan saat membacanya? Rasakan….

Sakitkah?

Bahagiakah?

Apa yang kau rasakan Hujan??

Karena akhirnya sama seperti namaku, aku akan meresap jatuh kedalam apa yang kurasakan. Maka aku selalu merasakan sebelum aku melakukan apapun itu.

Suatu ketika, untuk pertamakalinya aku jatuh cinta kepada seorang pria.

Usiaku baru saja masuk 20 tahun.  Dan bagiku melihatnya dan merasakan cinta seperti hujan yang turun di atas laut.  Begitu bergemuruh dan besar.

Hujan baru kali ini merasakan apa itu Badai. Karena bagiku untuk menjadi Hujan yang membuat orang menyukaiku adalah Hujan yang tenang dan menyejukkan.  Namun, sekarang aku sendiri merasakan apa itu Badai yang bergemuruh di dalam hatiku. Meledak-ledak seperti hendak melompat dari dalam sini.  Dari dadaku.

Laki-laki itu bernama Angin.  Ia sangat lembut, sama seperti angin di musim semi.  Tutur katanya sangat halus, sama memabukkannya seperti anggur.  Dan senyumannya sangat menawan, seperti mantra magis yang diucapkan para tukang sihir. Sangat membius.

Dan Hujan pun jatuh cinta pada Angin.  Angin pun menyambutku dengan kelembutan dan senyuman. Membelaiku dengan sebegitu banyak keindahan.

Sampai aku lupa akan menjadi Hujan yang disukai banyak orang, yang membuat orang tenteram saat aku datang.

Hujan yang mencintai angin kini tak ubahnya Sang Badai yang membuat semua orang cemas.  Membuat semua orang bersembunyi untuk berlindung.

Hujan kini berubah jadi badai.  Angin membuatnya berbelok-belok tak karuan dengan  menghempas butiran-butiran airnya kesana kemari.

Dan tanpa kusadari kini aku menjadi Badai.  Sang angkara murka yang membuat semua berlindung dan menjauh darinya.  Tapi aku tak peduli, aku hanya sangat mencintai Angin dan rela membuat Angin melakukan apa saja padaku. Termasuk menjadi satu dan tak lagi menjadi aku.

Sampai aku sangat yakin kami akan selalu bersama.  Tapi sepertinya aku terlupa satu hal. Badai pasti berlalu.

Angin tiba-tiba pergi dan meninggalkannku kembali menjadi hujan yang tunggal dan tenang. Tapi, aku merasa mati.

Hampa dan seolah tak bernyawa.  Kini aku kembali menjadi Hujan.

Tapi, bukan Hujan yang datang dengan kesejukan karena tetesan airnya yang menyejukkan.  Karena sekarang, tetesan itu bukan kesejukan.

Melainkan Airmata.

Angin memang begitu lembut dan memabukkan.  Jika Angin dapat bersatu dengan Hujan.

Tapi aku terlupa, jika Angin selalu datang dan pergi kapanpun Ia mau.

Angin tak pernah tinggal dan menetap.

Angin pasti pergi suatu saat nanti.

Dan kini Angin telah pergi.

Meninggalkanku menjadi menjadi Hujan yang berteteskan Air..Mata.

Ibuku berkata, “ Ia bukan jodohmu nak.  Kau terlahir sebagai Hujan, bukan sebagai Badai yang dimana kau dilahirkan disanalah Angin selalu akan ada untuk membuatmu tetap hidup.  Namamu Hujan nak, bukan Badai.”

Begitulah aku sebagai Hujan menerima kepergian Angin, meski kini aku berubah menjadi Hujan yang Berteteskan Air..Mata.

P.S : Kepada Angin,

            Aku tidak akan pernah membencimu. Terimakasih untuk gelora yang begitu pekat dan bersemangat.  Terimakasih untuk cinta yang lembut meski hanya untuk sesaat.  Aku bersyukur pernah memilikimu.

                                                                                    Yang mencintaimu,

                                                                                                            Hujan.

Aku tidak pernah menghapus kamu.
Aku menghapus diriku sendiri.
Agar kamu kokoh tanpa aku.
Tanpa kesalahan.

Aku berdoa pada Tuhan agar Ia menjaga kamu saat aku tak ada.
Jadi, jangan takut. Kamu tak akan sendirian…

Mungkin saat ini kita memang harus berjalan sendiri-sendiri ke arah yang berlawanan.
Tapi jika kamu dan aku memang satu, akan ada remah roti atau kerikil atau apapun yang akan membimbingmu atau aku untuk menemukan jalan pulang.
Pulang menjadi satu.
Pulang menjadi kita.

Take care because I care.
I will always do…